Di Luar Ruang Suaka Hukuman – Pengantar

Prashasti Wilujeng Putri

Terinspirasi dari karya Franz Kafka “In The Penal Colony”, Forum Lenteng mencoba menginterpretasi gagasan dari “penal colony” dalam konteks masyarakat kontemporer. Selama setahun, kami telah mempelajari dan mengembangkan ide tersebut, yang akhirnya dipresentasikan pada Agustus 2017 melalui ARKIPEL – Documentary and Experimental Film Festival dengan “Penal Colony” sebagai temanya.

 

Untuk melanjutkan studi dan pengembangan ide tersebut, 69 Performance Club membingkai “Penal Colony” dalam bentuk seni performans (performance art). “Penal Colony” merujuk pada sistem penjara dengan cara pengasingan yang sistem kontrolnya menuntut kepatuhan dari para narapidana melalui panopticon yang tidak terlihat yang menjalankan fungsi pengawasan.

 

Teknologi digital sekarang ini, salah satunya adalah media, membuat pengawasan menjadi mungkin saat orang-orang dengan sengaja mengunggah apapun ke internet. Ini berarti orang-orang tersebut dengan sengaja memberikan data personal mereka ke bank data mahabesar. Ini membuat pengguna menjadi subjek yang diawasi dan disupervisi. Beberapa orang sadar akan kondisi ini, dan beberapa orang lain tidak. Walaupun mereka sadar akan ini, kebutuhan akan eksistensi lebih besar. Mereka butuh untuk memberi tahu apa yang teman mereka katakan, di mana mereka, baju apa yang mereka pakai, kafe mana yang sedang banyak dibicarakan. Kita tidak perlu mengenal orang-orang ini secara personal, kita hanya butuh untuk membuka media sosial dan tiba-tiba kita bersama mereka di ruang mereka yang paling privat. Dalam kadar ini, mereka tidak tahu bahwa data personal mereka digunakan untuk pengawasan tertentu, dan mereka tidak mempunyai daya atau kuasa untuk mencegah hal tersebut. Kekuasaan memaksakan kontrol kepada masyarakat secara terpusat melalui cara mengkultuskan kekuatan yang membuat masyarakat menjadi suaka, suatu bentuk model yang telah dirasuki nilai-nilai kekuasaan tersebut untuk menghasilkan kepatuhan.

 

Bagaimana pun, interaktivitas yang melekat pada sifat teknologi ini juga memungkinkan kontrol untuk dipertaruhkan. Kerja kreatif yang dilakukan terus-menerus untuk membangun budaya akan meningkatkan literasi masyarakat. Melalui media sosial, dengan informasi yang terus-menerus diperbaharui namun mengabaikan “tuntutan” untuk eksis, kita memberontak ke si pengawas dan si bank data mahabesar tersebut. Merefleksikan karya Kafka menjadi seni performans dengan menggunakan teknologi dan media sosial sangatlah menantang. Begini lah cara kita mencoba mengakali pemilik data. Keputusan ini merupakan gestur kunci untuk menawarkan cara bereaksi terhadap situasi saat ini. Tubuh berspekulasi dengan cara yang tidak masuk akal untuk mengaktifkan diri mereka dalam rangka menonaktifkan kekuatan sentral dengan mengambil risiko merayakan kekuatan tersebut melalui narasi kecil yang mendekonstruksi narasi arus utama.

 

Secara umum, performans ini akan menggunakan teknologi, seperti webcam, proyektor, layar besar, dan YouTube Live Streaming. Kami akan mengutip salah satu kalimat dari novella Franz Kafka “In The Penal Colony”. Kami akan mengatakan kutipan tersebut secara lantang dan mengulangnya terus, dengan saat bersamaan direkam oleh webcam yang disambungkan ke komputer dan ke perangkat lunak YouTube Live. Di saat bersamaan pula, citra dari kanal YouTube 69 Performance Club diproyeksikan ke layar besar. Dengan adanya delay beberapa detik, suara akan terdistorsi dan citra akan terproyeksi dengan berbagai kemungkinan bentuk.

Leave a Comment

Start typing and press Enter to search