Absensi Tubuh dalam Performans Abi Rama

Prashasti Wilujeng Putri

Tulisan ini berusaha memaparkan hasil pembacaan atas karya seni performans Abi Rama di 69 Performance Club dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sejak platform ini diadakan (Januari, 2016). Pandangan umum yang dapat disimpulkan mengenai praktik berkarya Abi ialah si seniman sering kali menggunakan teknologi sebagai bagian yang tidak lepas dari persoalan tubuh. Namun, pada beberapa karya, penggunaan teknologi disingkirkan.

Dalam Eye Contacting Myself (dipresentasikan di Forum Lenteng, 7 Januari 2016), Abi melakukan kontak mata dengan representasi dirinya sendiri yang muncul di layar. Ia menggunakan dua laptop yang mengoperasikan software video call Skype yang dihubungkan ke proyektor, dan masing-masing proyektor memproyeksikan video ke dua sisi tembok yang saling berhadapan. Lewat susunan itu, Abi dalam performans-nya mencari celah hubungan antara representasi tubuhnya yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana menurut Abi, jika kita menghadap cermin, representasi tubuh kita akan terefleksikan seketika, geraknya serentak dengan peristiwa di dunia riil (dunia di luar cermin). Akan tetapi, pada teknologi video online (internet), terkadang terjadi suatu penundaan (delay) gerak akibat gangguan koneksi internet. Kelemahan teknologi tersebut menjadi perhatian Abi dalam karyanya. Abi mencari momen untuk dapat bertatap-tatapan mata dengan representasi dirinya yang terproyeksi di layar, melirik dari kamera video laptop ke layar, sampai akhirnya ia berhasil menatap mata “tubuh representatif”-nya sendiri. Karya ini dipresentasikan lagi dengan beberapa pengembangan dalam edisi performans ke-8 dari 69 Performance Club, di Gudang Sarinah Ekosistem, 9 Oktober 2016. Pengembangan karya tersebut diberi judul baru, yakni Transmission.

Karya Abi yang berjudul The Absence of Body Itself hanya berupa teks SMS (Short Message Service) yang ia kirimkan kepada seluruh hadirin dalam edisi ke-2 69 Performance Club, bertajuk “Menelisik Tubuh”, di Forum Lenteng, 9 Februari 2016. Pesan singkat itu berisi ucapan terima kasih untuk para penonton 69 Performance Club yang sudah hadir di Forum Lenteng untuk menyaksikan presentasi, sedangkan dirinya sendiri saat itu tidak berada di Forum Lenteng. Pada karya ini, tubuh-tubuh penonton seolah menggantikan kehadiran tubuh Abi, memiliki fungsi sebagai medium untuk menyuarakan pesan dan gagasan karyanya. Pada karya selanjutnya, The Trust among Us, yang dipresentasikan dalam edisi ke-3 69 Performance Club, bertajuk “Transmitted Delusion”, di Forum Lenteng, 6 Maret 2016, Abi masih melibatkan tubuh penonton. Dalam karya ini, ia meminta penonton untuk menutup mata dengan masker yang diberikan si seniman kepada masing-masing penonton. Saat penonton menutup mata mereka dengan masker itu, Abi melakukan suatu tindakan yang tak satu orang pun dapat melihatnya. Dalam karya ini, Abi mengajak penonton membayangi kejadian yang terjadi pada saat itu sembari dirinya sendiri membuat suara dan bau-bauan.

Karya Abi pada edisi ke-4 69 Performance Club (di ruangrupa, 9 April 2016), diberi judul Bertetangga atau Laddering. Pada edisi bertajuk “Framing Objects” tersebut, Abi menggunakan benda-benda, seperti cermin, pipa, ban mobil, dan tangga bambu. Bersama benda-benda tersebut, ia mengeksplorasi kemungkinan komposisi yang dapat dibentuk di suatu area berlatar putih, dalam rangka membangun imajinasi penonton tentang “makhluk” imajiner.

Karyanya di edisi ke-5, berjudul Priority. Merespon tajuk kuratorial “Pulsing Light”, Abi memainkan lilin dan flash light dari telepon genggamnya untuk menguasai ruangan yang gelap. Karya ini membingkai fenomena mengenai media sosial, tatkala orang-orang lebih memprioritaskan penampilan jamuan makan malam untuk diunggah ke media sosial daripada kualitas kenyataan jamuan makan malam itu sendiri. Ide bingkaian yang sama juga tampak pada Portraits for Traits, yang dipresentasikan dalam edisi 69 Performance Club ke-6 yang bertajuk “Painting Those Stories” (di Forum Lenteng, 6 Mei 2016), berangkat dari ide lukisan Las Meninas karya Diego Velazquez di tahun 1656. Lukisan itu sendiri merepresentasikan suatu keadaan dari medan produksi seni lukis; di sana terdapat seniman, proses melukis, objek lukisan, dan pemandang karya. Merespon lukisan tersebut dari sudut pandang itu, Abi dalam performans-nya memanfaatkan teknologi fotografi panorama yang dimiliki oleh ponsel pintarnya sendiri. Duduk di depan cermin, menempelkan beberapa keping koin di wajahnya, lalu memotret wajahnya sendiri dengan ponsel pintar dan kemudian mengunggah hasil foto yang ia ambil ke akun Instagramnya. Dengan karya performans ini, Abi membingkai fenomena media sosial. Abi menilai bahwa setiap orang pasti terlebih dahulu melakukan tindakan “mengurasi” foto-foto sebelum mengunggahnya ke akun media sosial, tentunya dengan alasan karena hanya ini menunjukkan hal-hal yang perlu diperlihatkan kepada publik. Di penghujung performansnya, Abi meminta penonton berdiri merapat di dekat cermin. Abi memotret penonton besertaan dengan cermin yang masih memantulkan refleksi dirinya saat mengambil foto tersebut, layaknya peristiwa yang terekam dalam Las Meninas.

Pada edisi ke-7, yang bertajuk “Notes on Drawing” (dipresentasikan di Gudang Sarinah Ekosistem, 6 Agustus 2016), para seniman diminta untuk mempresentasikan karya drawing mereka dalam bentuk gambar maupun fotografi. Untuk Abi Rama sendiri, ia mempresentasikan komiknya yang biasa ia unggah di sebuah akun Instagram @komikpinter. Di sini, ia menampilkan komiknya di laptop yang kemudian diproyeksikan ke layar besar sambil menarasikan ceritanya. Presentasi komik yang disajikan sebagai karya seni performans ini diberi judul Rambutan dan Tukang Ojek.

Bingkaian tentang fenomena media sosial kembali muncul pada karya Abi yang berjudul Facing a Fan, dalam edisi ke-9 69 Performance Club yang bertajuk “Occurrence” (di Gudang Sarinah Ekosistem, 16 Desember 2016). Di karya ini, Abi berusaha untuk memosisikan tubuhnya agar tetap berada di dalam bingkaian kamera yang disangkutkan pada kipas angin yang bergerak. Abi mengikuti arah gerak kipas agar dapat memastikan tubuhnya tetap berada dalam cakupan bidikan kamera tersebut. Rekaman kamera tersebut secara live diproyeksikan ke dinding selama Abi melakukan performans. Abi seolah menunjukkan suatu proses pengambilan gambar yang rumit, yang biasa dilakukan oleh para pengguna media sosial, demi mendapatkan hasil maksimal sebelum akhirnya diunggah ke media sosial.

Karya terakhirnya yang berjudul Take My Breath Away adalah salah satu karya yang juga tidak menggunakan gadget, di samping karya lainnya yang berjudul Bertetangga. Pada karyanya ini, ia memainkan cahaya sambil meniup bola gym, dan kemudian saat bolanya sudah tertiup dan berbentuk sempurna, ia mengempiskannya lagi.

Dari sebagian besar karya-karyanya,—khususnya yang menggunakan teknologi—dapat dibaca bahwa representasi image yang Abi hadirkan saat performans dengan kamera foto ataupun video sangat berelasi dengan tubuh aslinya (yang merupakan presentasi). Contohnya pada Facing A Fan, Transmission, dan Portraits for Traits.

Ada kecenderungan bahwa Abi bertujuan untuk menaklukkan tubuhnya yang bersifat representasi itu dengan cara mengimaterialkan atau menghilangkan tubuh (dari sifat presentasinya) dalam dunia riil, mengimaterialkan peristiwanya, lalu dipresentasikan lagi kepada publik dengan bentuk yang lain sehingga ia bisa mendedah tubuhnya sendiri yang ada di dalam kamera atau video. Mari ambil contoh pada Facing A Fan! Abi membongkar proses tubuh seseorang dalam merepresentasikan dirinya ke dalam media sosial. Hal ini terjadi mirip dengan karyanya yang berjudul The Absence of Body Itself. Akan tetapi, dalam The Absence of Body Itself, representasi tubuh si seniman berwujud dalam teks, bukan dalam image seperti pada karya-karya Abi yang lain.

Mungkin memang pada karyanya yang berjudul Bertetangga, ia kurang bisa mengimaterialkan baik tubuhnya sendiri maupun benda-benda yang ia gunakan dalam performans, walaupun ia berusaha memakaikan sepatu dan menutupi tangga tersebut dengan kain hitam. Itu berbeda dengan karyanya yang berjudul Take My Breath Away. Di karya yang terakhir itu, ia berhasil meleburkan tubuhnya dengan dua objek yang ia gunakan: kubus dan bola gym.  Kedua benda tersebut melebur dalam artian bahwa sifat kebendaan yang melekat pada keduanya menjadi hilang lewat performans yang dilakukan Abi. Begitupun karya-karyanya yang menggunakan teknologi. Dengan teknologi, Abi berusaha melibatkan penonton, “menghilangkan” penonton, ataupun “menghilangkan” dirinya sendiri.

Karya-karya Abi Rama ini bisa dibandingkan dengan karya-karya seniman performans lain yang tergabung dalam 69 Performance Club, bernama Ragil Dwi Putra. Apabila Abi hampir selalu menggunakan kamera foto atau video, Ragil menggunakan cermin. Sebagaimana teknologi rekam (video), cermin tentunya juga menghasilkan representasi, tetapi secara esensial sifat representasinya berbeda. Representasi pada cermin dapat kita katakan konkret dibandingkan teknologi yang digunakan Abi karena teknologi-teknologi tersebut bekerja dalam logika data (digital), bukan analog. Selain itu, cermin merefleksikan dunia riil secara terbalik. Oleh karenanya, polemik representasi yang dipersoalkan oleh Ragil sangat berbeda pada karya Abi.

Abi yang menggunakan intervensi teknologi dan digital dalam karyanya sangat memahami distorsi yang akan terjadi di dalam dunia digital itu sendiri, juga internet. Dalam menjelaskan hal ini, Abi memberi contoh seperti ini: gambar yang diunggah di Instagram, misalnya, hanyalah materi copy dari gambar original yang masih ada di harddisk masing-masing gadget. Atau contoh lain, saat seseorang bersiaran langsung di Instagram Live, representasi orang tersebut akan muncul di gadget-gadget orang lain melalui kanal Instagram. Kemunculan image-image tersebut di berbagai gadget orang (sebagai representasi realitas), menandakan adanya peristiwa menyalin atau copying dengan logika yang sama seperti pada unggahan gambar diam di Instagram. Peristiwa copying ini membuat munculnya distorsi dalam gambar, seperti resolusi gambar yang berkurang atau video live yang delay sebanyak 10 detik. Kefasihannya dan kesadarannya dalam suatu dunia bernama internet tersebut, dan bahwa kenyataan di dalam dunia internet berjalan beriringan atau paralel dengan dunia kita ini, membuat Abi dapat membingkai fenomena internet dan media sosial dengan bahasa yang sangat performatif. Tantangan bagi karya-karya Abi ke depan adalah bagaimana ia dapat mengeksplorasi performativitasnya lebih jauh tanpa menggunakan teknologi.

Leave a Comment

Start typing and press Enter to search